Semaraknya Perbedaan di Tanah Mas Semarang

 

Masa Kecil di Tanah Mas Semarang

Saat menjelang Imlek seperti ini aku selalu teringat waktu masih tinggal di Tanah Mas Semarang. Separo lembaran masa kecilku diwarnai disana. Mulanya aku tinggal di Tambak Mas. Dari belasan gang sebagian dihuni oleh keturunan Cina totok yaitu orang Tionghoa kelahiran Daratan Cina yang masih belum fasih berbahasa Indonesia. Salah satu yang masih aku ingat adalah Mak (nenek, istilah Tionghoa) Penjual Bakpau. Katanya beliau bangun jam 3 dini hari untuk menyiapkan dagangannya & berkelililng sekitar jam 05 sampai 05.30 pagi. Cara berjualannya dengan membawa tampah berisi bakpau yang dibawa di sisi pinggul. Waktu itu aku sudah siap menghadang di depan rumah untuk membeli bakpau sebagai sarapan. Kacang ijo, kacang tanah, daging ayam, daging sapi. Bakpau isi daging babi kata beliau juga ada tapi tempat masak & menjualnya tidak dijadikan satu dengan masakan halal. Kita tidak tahu prakteknya, tapi mendengar keterusterangannya bahwa dia juga jual bakpau daging babi kita khusnuzhon (berprasangka baik) saja. Rasanya lebih lezat dibanding dengan bakpau sekarang meski yang berlabel terkenal. Mungkin karena ada tambahan aroma ketiak Mak Penjual Bakpaunya ya hahaha.

Kuliner di Sekitar Tanah Mas Semarang

Ada pula penjual tauwa (susu tahu dengan air jahe manis), penjual swike (masakan kaki kodok), masakan daging babi, segala macam masakan Tionghoa, gudeg asli Jogja (karena penjualnya mengaku asli Ngadisuryan Jogja), timlo asli Solo (karena penjualnya mengaku asli dari dalam tembok benteng keraton), rujak cingur, & masih banyak lagi berbagai menu istimewa. Karena ada banyak orang Cina yang tinggal disana maka ramailah suasana pada saat hari raya Imlek tiba. Imlek di Semarang tak lengkap tanpa adanya Lontong Cap Go Meh. Masakan khas hari raya Imlek ini hanya ada di Semarang. Lontong Cap Go Meh hasil asimilasi budaya Tiongha dengan budaya Muslim. Menunya hampir sama dengan kuliner ketupat ditambah dengan rebung (bambu muda), tahu, telur rebus, buncis, srundeng (bubuk kelapa digoreng), bubuk kedelai, sayur lodeh, kerupuk udang, udang laut kecil, yang lain lupa. Tak ketinggalan kue bulan. Sangking banyaknya kiriman Lontong Cap Go Meh, menu tersebut baru habis setelah beberapa hari. Sangking banyaknya kiriman kue bulan sampai berbulan-bulan pun belum tentu habis sehingga mblenger sampai berjamur.

Romadlon di Tanah Mas Semarang

Semaraknya Perbedaan di Tanah Mas Semarang
Masjid Al-Hidayah Tanah Mas Semarang https://kisahsemarangan.blogspot.co.id/

Romadlon di gang Tambak Mas beda dengan daerah lain yang pernah aku tinggali & kunjungi. Yang beda adalah semaraknya. Karena yang merayakan Lebaran tidak hanya orang Muslim tapi seluruh warga di sana ikut memaknainya. Tempat sholat taraweh bergantian di rumah-rumah warga karena di Tanah Mas dulu lokasi masjidnya berada di gerbang perumahan yang jaraknya lumayan jauh dari Tambak Mas. Sekarang sudah dibangun beberapa musholla & masjid sehingga mudah menemukannya. Penjual makanan non Muslim dengan suka hati menunda buka usaha mereka tanpa paksaan dan himbauan. Lepas ashar mereka baru membuka usahanya. Istimewanya lagi pada bulan suci umat Islam itu para pelaku kuliner non Muslim khusus hanya berjualan makanan halal. Ketika aku pindah ke Kuala Mas kerukunannya pun tiada beda dengan di Tambak Mas. Teman bertambah banyak. Karena meski masih SD jelajah mainku hampir meliputi seluruh Tanah Mas. 129 hektar sudah termasuk sangat luas kan?

Baca juga: Pasca Penyerangan Gereja di Sleman DIY. Indahnya Kebersamaan

Ragam Kultur

Menurut kisah berbincangku dengan para engkong & mak, memakai penterjemah temanku Eng Hian yang aku panggil E-eng (miss you Eng) seorang gadis Cina yang cantik, mereka tinggal beberapa lama di Kalimantan lalu menyeberang ke Semarang yang jaraknya paling dekat. Mereka adalah kaum pekerja keras. Akhirnya menetaplah di Semarang karena merasa nyaman & aman. Mengapa di Tanah Mas bisa banyak pendatang dari bermacam kultur? Karena perumahan Tanah Mas era itu baru dibuka & diiklankan hingga luar kota sebagai perumahan di tepi pantai Tanjung Mas yang nyaman. Memang kala itu perumahan Tanah Mas mempunyai prestise dengan lahannya yang sangat luas, penataannya yang rapi, & kualitas bangunannya yang memenuhi standar. Itu dulu. Lama kelamaan banjir yang awalnya mulai sepaha orang dewasa. Sekarang malah mencapai kepala orang dewasa sehingga harus dibikinkan tanggul.

Kebersamaan

Kebersamaan semacam ini belum pernah aku temui lagi dimanapun setelah pindah dari Semarang. Meski sempat diwarnai kerusuhan Jawa & Cina pada waktu aku masih kelas 4 SD era tahun 1980an, kerukunan antar umat beragama tetap terjalin dengan baik hingga sekarang. Aku rindu suasana seperti di Tanah Mas Semarang terjadi di kota-kota lain di Nusantara ini. Mungkinkan akan terjadi?

Kenangan mas kecilku di Tanah Mas Semarang. Dari bhumi Jombang menyapa.

Foto diambil dari: https://kisahsemarangan.blogspot.co.id/

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar
Silakan masukkan nama