Mustofa Jufri M.Si.
Mustofa Jufri M.Psi.

Di negeri para pemimpi ini rupanya sulit untuk membuat filem tentang pendidikan. Takut nggak laku di rating kayaknya. Sukanya tentang horor. Genrenya sih horor tapi bukan horor supranatural yang benar-benar thriller tapi horor nontonnya lihat buka body tanpa awer-awer. Herannya banyak remaja yang sangat suka dengan kehadiran filem bergenre horor ala Endonesyah ini.

Hari Minggu ini, 15 Maret 2015, aku baru saja pulang dari seminar gratis tentang anak. Disinggung masalah pornografi yang arusnya tak terbendung bila para orangtua malas atau lalai melakukan pengawasan kepada sang buah hati.
Omong kosong bila setelah melihat satu judul filem biru lalu tidak tertarik untuk melihat judul lainnya. Karena setelah terpapar (terkena radiasi) pornografi, ada beberapa syaraf di otak yang terkontaminasi. Proses penyembuhannya sangat lambat bahkan bisa mencapai puluhan tahun.Dijelaskan pula apabila anak telah terkena paparan pornografi maka segala sesuatu yang menjadi gerbang akses harus diputus dengan tegas. Karena stadium pornografi tidak berjenjang bahkan langsung stadium 3. Bila kita menjumpai anak melihat filem biru maka tindakan yang diambil harus tegas setegas-tegasnya bahkan diharuskan untuk tega.
Bibit konten pornografi terasup melalui banjirnya iklan televisi yang jauh dari unsur-unsur pendidikan, menjamurnya media sosial yang bertaburan iklan-iklan pornografi, maupun game-game kekerasan. Media utamanya melalui gajet, internet, televisi, dan pergaulan. Gajet harus diambil, akses internet di bawah pengawasan orangtua, dan pergaulan diawasi seketat mungkin. Karena pornografi sangat menyandu/adiktif/addictive maka bila tiba-tiba dihentikan asupannya dampaknya akan seperti orang sakau atau ketagihan obat-obatan terlarang. Kondisi sakau tersebut harus tetap dipertahankan sampai waktu yang tidak terbatas.
Kabupaten Jombang, menurut survei yang dikemukakan oleh Mustofa Jufri M.Psi. seorang psikolog muslim, menempati peringat ketiga se Jawa Timur untuk kategori akses pornografi. Sayangnya
Mustofa Jufri tidak menyebutkan metode dan cara kerja surveinya. Survei ini
diharapkan mampu memicu gerak para pendidik dan para
orangtua untuk mengambil langkah yang lebih tepat dan tegas dalam rangka
meminimalkan akses terhadap pornografi.
Perlu
diketahui bahwa tidak ada tendensi atau motif diluar pembahasan tentang
pengaruh pornografi terhadap kecerdasan buah hati pada seminar kemarin.
Sungguh suatu anti klimaks yang sangat menyakitkan dilihat dari julukan Kota Santri yang melekat kuat pada Kabupaten Jombang.
Tidak ada cara lain yang lebih ampuh untuk menghadang arus pornografi selain perhatian penuh dan kasih sayang yang tulus kepada anak-anak kita. Dengan menjadi orangtua yang bijak kita bisa menjadi teman bagi anak kita. Anak dengan senang hati akan mencurahkan isi hatinya mengadukan segala permasalahannya kepada orangtua. Berbahagialah para orangtua yang menjadi tempat curahan hati anak karena berarti telah mendapat kepercayaan terbesar seorang anak.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar
Silakan masukkan nama