Jalan kehidupanmu, anakku. Jalan yang lurus & teduh ini aku lewati setiap hari saat mengantarjemput Sulung-ku ke sekolah. Setiap kali melintasinya aku selalu membayangkan jalan kehidupan Sulung-ku. Membayangkan & berharap agar titian yang akan ditapak Sulung-ku lurus & rindang pula. Tentu saja dengan rintangan berupa lobang kecil disana-sini, kerikil kerakal yang berserakan, duri, debu, angin, & semacamnya.
Tempuhlah masa depanmu Nak. Ibu Bapakmu akan menjadi peneduhmu. Janganlah kau terlena oleh keteduhan yang tak abadi, sehingga terlalu sering mengaso di tepi jalan. Ada saatnya pohon peneduh ini meranggas lalu tiada.
Guru-guru akan menjadi penunjuk jalanmu. Merekalah pelita terpercayamu di malam gulita. Memberimu aba-aba agar mampu menghindar & meloncati rintangan.
Tertatih-tatih & tergores hingga berdarah-darah itu wajar. Luka-luka akan menambah profil kejantanan & ketegaranmu. Teruslah berjuang hingga ujung yang benar-benar ujung.
Jangan lupa nak, bila engkau melihat bintang di langit. Mohonlah kepada Penciptamu agar tetap memberimu kekuatan apapun yang terjadi di tengah perjalanan.
Anakku, aku menangis ketika menuliskan kalimat & doa ini. Semoga tetes air mata bapakmu menambah ridlo Allah SWT untukmu.

Dari aloon-aloon bhumi Jombang menyapa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar
Silakan masukkan nama